Jumat, September 16, 2011

Tentang Seorang Kawan


Gue skip dulu part 2 postingan sebelumnya. Akan gue post besok

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Siang ini, sebuah kabar dari SMS dari seorang sahabat kecil saya:

"Bro,Vina meninggal dunia siang tadi. Kecelakaan, doain yang terbaik untuk dia"

Berita itu, seketika membuat jantung saya serasa jatuh dari dada. Selama beberapa saat, saya tercenung tak percaya. Saya rebahkan punggung pada sandaran kursi, pikiran saya tidak lagi fokus pada hal yang sedang saya kerjakan.

Buat saya, dia adalah sosok spesial yang selalu mewarnai hidup saya. Seorang kawan, karib, sahabat, seorang yang saya kenal baik sebagai pribadi yang menyenangkan, mudah bergaul dan setia kawan. Saya masih ingat ketika mengalami kesusahan ketika dihadapkan pada deadline penulisan naskah Muka Marketplace Boy (MMB), saya telepon dia jam 1 malam.

Jika saya menelepon orang lain, mungkin telepon saya akan diacuhkan begitu saja atau mungkin beberapa mengangkat kemudian memaki keras kepada saya. Vina beda, saya tahu dari suaranya ketika dia mengangkat telepon, jelas terdengar suara parau bangun tidur. Namun, dia masih sempat-sempatnya tertawa dan kami sempat berbincang barang setengah jam. Lalu ketika percakapan kami berakhir, sebuah text message dari Vina datang ke ponsel saya :

Jangan nyerah. Cepet tidur, Kampret!!

from : *sahabat selamanya*

Kampret adalah kata-kata yang biasa dia ucapkan ketika memanggil saya, dan itu adalah kata makian yang sering saya ucapkan sampai sekarang. Satu hal yang selalu saya ingat dari dia adalah gaya khasnya. Setiap kali saya atau teman sedang dalam kesusahan atau mood yang kurang bagus, dia akan datang lalu meninju masing-masing bahu kami, kemudian dengan gaya metalnya dia kepalkan kedua tangannya didepan muka kami, sambil berkata

"Ayo, Bencong!!".

Kami tidak pernah tersinggung, kami tahu itu adalah cara dia untuk memberi semangat dan segera menyudahi kesedihan kami.

Dia selalu seperti itu. Dia sosok yang sangat saya hormati dan sejujurnya buku MMB bisa terbit pun adalah berkat dia. Dia yang meyakinkan saya untuk terus berusaha, dia yang siang-siang bela-belain datang ke kos saya, mengantarkan 2 buah lunpia untuk makan siang. Yah, walaupun saat itu cowok dia sempat cemburu karena tiba-tiba lebih perhatian ke saya dibanding cowoknya sendiri.

Saya menyanginya sebagai seorang sahabat. Saya menuliskan namanya di ucapan terima kasih di Kata Pengantar buku MMB dan sebuah kisah tentang kami di Bab : Cowok Yang Mukanya Pasaran Itu...

Saya sempat memberikan 1 buku MMB kepadanya beserta cap tangan. Yah, cap tangan : 5 jari dan telapak kanan saya utuh pada halaman pertama. Karena untuk seorang sahabat spesial harus ada 1 hal spesial yang harus saya berikan untuknya.

"Aku simpan. Sampai mati.", katanya sambil meninju pundak saya. Lalu kami tertawa.

Sekarang, kami tak bisa lagi tertawa bersama.

Lepas dari lamunan saya tentang Vina, saya bangkit dari tempat duduk, menegakkan punggung. Saya pencet tuts Blackberry, mengirimkan pesan singkat ke sebuah nomer ponsel:

"Vin, setengah percaya kamu pergi. I'll be missing you".


Pedihnya, saya tahu SMS itu tak akan pernah lagi dibalas oleh pemilik nomernya.


Rest In Peace, Vina

Ya, kita memang sahabat selamanya.......



Minggu, September 11, 2011

Pada Suatu Hari Ketika Galau (part 1)


Secara sadar, gue mengakui blog ini terlantar. Rendra, temen blogger, bilang blog gue udah karatan. Iya memang, ibarat karat, ditumbuhi lumut. Saking lamanya, ada lumut yang udah berevolusi jadi pohon beringin. Pas gue lihat lagi, ada yang nempelin poster kampanye walikota Bekasi pula.

Blog macam apa ini !?

Banyak yang terjadi akhir-akhir ini, khususnya sejak gue pindah kerja ke kantor lain. So far, gue masih belum bisa menikmati kerjaan ini. Alasannya, kerjaan baru ini beda dengan kerjaan gue yang lama. Selain itu, kerjaan ini beda dengan ilmu yang pernah gue dapat selama di kampus dulu. Intinya, sekarang gue kayak alien nyasar ke pasar. Bingung.

Sekarang, gue kerja di kantor audit, sebagai seorang auditor. Beda jauh dengan kerjaan gue dulu sebagai banker. Untuk jadi auditor ini susahnya bukan main. Sebelum mengaudit, gue harus dapat sertifikasi auditor dulu dan berita buruknya adalah untuk dapat sertifikasi itu, gue harus training selama 5.5 bulan. Lebih buruknya lagi, selama 5.5 bulan itu, hampir tiap minggu gue diharuskan ujian. Yang paling buruk, semua ujian harus lulus atau gue ga bakal dapat tugas mengaudit. Yang artinya, seandainya ga lulus jabatan gue mungkin diturunkan jadi pengelap mesin ketik. Yang paling buruk dari semuanya, gue ga sadar Marshanda ternyata udah nikah *meres lap pel bekas air mata.

Kita skip cerita soal kerjaan ini. Nanti akan dijelaskan di buku gue berikutnya . Eh? (Amin)
............................................



Seberapa sering kalian merasakan jatuh cinta?
Menurut sebuah majalah wanita yang pernah gue baca ketika nungguin nyokap di salon, (dan tanpa sadar ikutan pake lipstik) orang dengan zodiak sama seperti gue, adalah orang yang mudah jatuh cinta. Tokoh terkenal macam Justin Timberlake, Nick Carter, John Travolta adalah beberapa dari sekian banyak yang lahir dibawah horoskop Aquarius. Kalau kalian cermati, tokoh yang gue tulis semua berawajah tampan, ga jauh beda sama gue, bedanya mereka jadi artis film, gue jadi artis kantin (sayup2 terdengar 20 orang teriak-teriak pesen ayam goreng ke gue -panik!! ).

Man, gue bukanlah orang yang percaya pada ramalan horoskop atau tukang ramal sirkus keliling yang dibayar limaribu perak buat mamerin gigi itemnya, lalu dengan suara seolah-olah dibuat gemetaran "Nak, umur kamu tak panjang lagi, kalau kau mau umurmu lebih panjang, tambahin goceng, saya ganti ramalannya". Ga, gue percaya hidup ini misteri, tidak bisa ditebak dan penuh kejutan. Termasuk soal cinta?

Seperti yang gue bilang tadi, beberapa majalah remaja (dan para abege labil pembaca setianya yang beli cuma biar dibilang gaul) mempercayai secara serta merta kebenaran cerita tersebut. Gue bukan orang yang mudah jatuh cinta. Ga percaya? Selama hidup, gue baru pacaran selama 2 kali ....
eh, 3 kali ........
Anjrit ....
4 kali !!..........
Oke, ga penting! Intinya gue bukan cowok gampangan.

Banyak hal yang menyebabkan orang jatuh cinta. Misalnya : wajah yang rupawan, tubuh yang proporsional, kecerdasan, humoris, atau mungkin karena kalian berdua terjebak dalam gua selama 5000 tahun, sehingga mau ga mau kalian pacaran daripada salah satunya keduluan jatuh cinta sama landak gua.

Kalau gue? Gue merasa jatuh cinta ketika berada di dekatnya membuat waktu berjalan cepat seakan 24 jam itu berlalu seperti 5 detik. Bersama dirinya seperti berada di perapian Dewi Hestia, Sang Dewi Perapian, hangat, nyaman, ada bara yang selalu menjagamu dari kedinginan. Bersama dia, matahari hanya bintik kuning, sedangkan dia adalah lentera surga. Bersama dia, masuk angin berarti ada yang ngerokin. Eh?

Ketika merasakan seperti itu, gue jatuh cinta.

Untungnya, selama ini gue tidak pernah merasakan seperti itu pada seorang cowok.

Yah, seperti yang gue bilang, gue bukan orang yang mudah jatuh cinta. Dengan kriteria sepanjang beberapa baris tadi, sulit untuk menemukan pasangan yang tepat. Meskipun bacaan gue roman picisan penuh kata rayuan, sulit untuk membuka sebuah percakapan romantis dan berlaku layaknya seorang gentleman. Gue bukan Romeo yang bersedia memanjat tembok dan bersenjatakan puisi untuk mendapatkan cinta. Gue juga bukan Rangga yang dengan melempar pensil di perpustakaan saja bisa dapat cewek secantik Cinta. Gue juga bukan Tuxedo Bertopeng yang romantis banget sampai rela gigitin mawar berduri untuk dapetin Sailormoon. Gue juga bukan Conan Barbarian yang bisa nelen kentang panas sekali telan.

Gue bukan mereka, dan hati ini memang pemilih.

Deskripsi cinta mungkin dijabarkan terlalu luas di hati gue. Begitu banyak harapan yang simpan dalam hati terhadap cinta, ketika sekali saja gagal, harapan itu musnah. Kemudian hanya meninggalkan hati yang kosong seolah kepompong tanpa isi. Seperti roti sandwich tanpa daging, mau kau gigit sampai seratus kalipun hanya roti gandum biasa. Hambar.

Dalam sebulan ini, beberapa orang disekitar gue mengalami banyak hal tentang cinta. Beberapa jatuh cinta kemudian jadian, beberapa jatuh cinta kemudian bertepuk sebelah tangan, beberapa jatuh cinta bertepuk sebelah tangan, kemudian delusional dan memutuskan memacari tangan kanannya.

Beberapa jatuh cinta, tak diungkap, lalu beralih jadi penguntit yang selalu up to date info soal si doi "eh, tau ga, mamanya dia ternyata mamaku lho....". Mampus.

Beberapa patah hati, sebagian menerima dengan hati besar, sebagian lain tenggelam dalam kefanaan seakan dunia mereka gelap, lalu terjebak dalam kegilaan semu. Menulis status galau di jejaring sosial, curhat kepada teman baik "jangan bilang siapa-siapa, gue putus dari si A" dan kemudian besoknya dia cerita ke 100 orang dengan kata-kata yang serupa.

Dunia itu luas jika kalian mengetahuinya. Cinta mungkin bisa ditemukan di kolong meja ketika dahi kalian tidak sengaja terbentur satu sama lain ketika mengambil sebuah pulpen, atau secara klasik cinta mungkin terjadi ketika kamu salah masuk kamar mandi wanita, dan seluruh wanita disana menuduhmu mesum, sementara ada 1 wanita yang membelamu mati-matian "Tidak. Dia cuma mengira kamar mandi wanita ini warnet. Ya kan?" Lalu kamu cengo, dan setelah digebukin, kamu jatuh cinta.

Cinta itu misterius bukan?

Sisanya kita teruskan di next post yah........

Tunggu lanjutannya.....

(part 1 berakhir disini)


Jumat, April 29, 2011

Sebuah Garis Baru

00:11
Thursday, 28 April 2011 :
@acasaja
Lewat tengah malam.
Sebuah garis panjang pada satu titik akhir.
Satu titik awal untuk sebuah garis baru.
Bismillah


Status yang gue tulis di twitter dan facebook.

Desember 2008 sampai hari ini.

Kalau ditilik kembali, rentang waktu yang cukup lama sejak gue pertama kali bekerja di BII. Lalu, ketika tiba waktu gue harus meninggalkan BII, teori relativitas benar : 2 tahun 5 bulan adalah waktu yang teramat singkat.

Ada mimpi yang harus dikejar, ada harapan yang harus diraih. Pada akhirnya, idealisme itu yang membuat gue memutuskan untuk keluar dari sebuah perusahaan besar tersebut. Nyata bahwa penghidupan yang lebih layak dan kebahagiaan adalah faktor utama tujuan gue kerja. Di tempat baru nanti, semoga hal tersebut dapat terwujud.

Tidak ada penyesalan, yang ada adalah kebanggaan bahwa gue pernah bekerja di perusahaan tersebut.

Tidak ada suka cita berlebihan, ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa ada beberapa bagian yang akan hilang dari kehidupan. Sahabat. Teman.


Gue akan mencoba menikmati hidup. Bukan seperti air mengalir, tapi seperti samudera.

Luas, dalam, penuh misteri yang harus diselami


Satu titik awal untuk sebuah garis baru

*air mata netes nih, susah nulis panjang.

sekian

Minggu, April 24, 2011

dia : yang terabaikan

Hatinya dingin
Senyum seulaspun tidak dari wajahnya
Pada siluet malam, laksana pohon beringin
Besar,kuat, sendirian dalam badai

Tak sekuat itu
Badannya gemeretak hebat
Tangannya dikepal erat
Wajahnya mengeras

Bukan kedinginan
Itu wajah dendam

Matanya hitam,jiwanya pun
Langkahnya terseok,
Tangannya menggapai hampa
Kakinya menyeret iba

Dia, yang terbuang
Dari kelompoknya, dari semestanya
Dia, yang tak diakui
Demi semua nama dan dia yang terlarang

Roda-roda waktu menggilas kejam
Dia berbapa dan beribu
Dalam kata,bukan dalam kasih
Dalam lisan, bukan dalam hati

Lalu apa arti nafasnya
Jika satu tarikanpun,
Entah manusia mana yg peduli

Lalu, iblis mendengarnya
Bicara, raih tanganku, kau berkuasa

Pada suatu waktu,
Angin membawa kabar duka
Dan hujan mengguyur seluruh kebahagiaan

Bersumpahlah dia pada iblis

aku pendendam,
hidup dari bara api kebencian,
aku abadi dalam hitam,
dalam pekat,
dalam hati dengki manusia

Aku sang pemarah,
hidup dari jiwa yg resah,
aku abadi dalam dosa,
dalam laju darahmu
yang senantiasa mengelegak oleh nafsu

aku pendosa,
darahku adalah sel-sel kemunafikan
dan jantungku adalah angkara murka

Dia, yang tak punya lagi rumah untuk kembali